2,5 TAHUN TINGGAL DI RUMAH SETAN

Diposting pada

Hari Pertama, Masih Perkenalan

“Mana yang punya..?” Tanya Anjas
“Bentar, ini lagi telpon”…
Sementara Fajri menelepon, Anjas berkeliling ke sisi samping rumah, ada sela lorong disebelah kanan bangunan rumah ini.
Dari depan, dia bisa melihat ada pura kecil dan sumur yang sepertinya tidak terpakai diujung lorong. Anjas berpikir lorong ini pasti tersambung dengan ruangan tengah dan belakang dari rumah ini, namun dia enggan melihat-lihat lebih jauh sebelum yang punya datang.
Baru beberapa menit sang pemilik rumah datang,

“Kenalin Njas, ini Lukman..anak tingkat bawah kita…pertanian juga” kata Fajri
“Siang Bang Anjas ya,,, ayok masuk-masuk…besok kita bersih-bersih ya…udah lama nggak ditempatin” kata Lukman sambil membuka pintu depan.
“Udah berapa lama gak ditempatin rumahnya man..?” ujar Anjas saat melihat-lihat setiap ruangan
“Wah udah lama Bang, jadi lupa saya…ini dulunya pabrik es balok…bapak saya yang urus dulu..udah lama” sahut Lukman.

Ada 3 kamar dirumah ini, yang lebih besar dan sepertinya menjadi ruang tidur utama letaknya antara ruang tamu dan ruang tengah, yang satunya persis setelah kamar tidur utama, sedangkan yang paling kecil terpisah sendiri dari kamar yang lain dan dekat dengan kamar mandi.

Ada 1 kamar mandi cukup besar dibagian belakang, berderet dengan dapur dan pintu keluar yang langsung terhubung dengan bagian belakang rumah ini, sumur dan pura kecil yang tadi dilihat Anjas ada disudut rumah ini.

“Sekarang udah gak dipake lagi sama bapaknya…?” Tanya Anjas, masih melihat-lihat ruangan belakang
“Udah nggak bang, pindah ke tempat lain…”Jawab Lukman
“Ada pure dibelakang…” kata Anjas sambil lalu, tapi lebih kepada bertanya kepada Lukman
“Oh iya bang, ini bangunan dibeli sama Bapak saya dari orang bali…sengaja dibiarin pure nya…..silahkan bang Fajri sama bang Anjas milih kamar yang mana..?” kata Lukman
“Kamar depan…” langsung dijawab oleh Fajri yang barusaja keluar dari kamar mandi belakang.
“Saya yang ini aja,…” tunjuk Anjas sambil masuk ke ruang paling menyendiri sendiri dekat dengan kamar mandi, dia membatin lebih enak kalo dekat dengan kamar mandi biar gampang bersih-bersih kamarnya.
“Barangnya apa aja njas? Langsung mw tidur malem ini kan ya…” tanya Fajri
“Gak ada, barang cuman tas ini doank sama baju-baju…”
“Oke abang2, saya beli lauk dulu depan situ…kita makan abis ini…” pamit Lukman.

BACA JUGA:  KISAH ISTRI PESUGIHAN POCONG

Anjas langsung menuju kamarnya untuk bersih-bersih sampai akhirnya memutuskan untuk mandi saja terlebih dahulu.
Rumah ini agak pengap, sebentar saja dia sudah bersimbah keringat. Ternyata ada Fajri dikamar mandi, sembari menunggu Fajri dia memutari rumah itu beberapa kali agar lebih terbiasa, pikirnya.
Lelah menunggu Fajri, dia memutuskan untuk keluar rumah saja. Udara diluar jauh lebih bagus, segar dan tidak lembab. Sembari membakar rokok, Anjas duduk di tangga teras rumah.
Barusaja dia menyadari ada sebuah pipa besar seperti bor yang tidak dilihatnya ketika datang tadi, pipa besar persis disamping pohon mangga yang besar sehingga menutupi pipa tersebut. Mungkin ini bekas alat pembuat es balok, pikir Anjas.
Baru hendak mendekati pipa itu, ada langkah-langkah kaki kecil berlari dibelakangnya. Dia menoleh namun tidak menemukan siapa-siapa.