KAROMAH WALI ALLAH, KETIKA GUS MIEK MURKA TEMPELENG SANTRINYA

Diposting pada

Mau dimakan, jelas-jelas daging babi. Tidak dimakan, itu perintah Gus Miek.
Terbayang olehnya kisah-kisah yang ia dengar selanjutnya bahwa setiap kali Gus Miek minum bir, maka sebelum menyentuh bibir, bir itu berubah menjadi air putih.

Kemudian kisah magis lain tentang Gus Miek yang berkecamuk di pikirannya.

Dengan penuh kecemasan, kekhawatiran dan sedikit berharap keajaiban santri itu memutuskan memakan daging babi tersebut.

Siapa tahu di mulut nanti, daging babi yang akan dimakannya akan berubah menjadi daging kambing, begitu pikirnya.

Sesaat sebelum daging babi itu masuk ke mulut, sebuah tamparan tiba-tiba mendarat di pipinya. Plaaakk!!

Tentu, itu tamparan Gus Miek.
Dengan wajah marah, mata Gus Miek melotot ke arah santri seniornya.
“Mondok berapa tahun, kok tidak tahu daging babi itu haram?” bentak Gus Miek pada santri seniornya itu.
“Tapi Gus…?” sergah santri itu.

“Tapi apa?” sahut Gus Miek.
“Siapa yang mengharamkan babi?” tanya Gus Miek.
“Allah…,” jawab santri itu meringis kesakitan
“Siapa yang perintahkan kamu makan babi tadi?” tanya Gus Miek.

“Gus Miek…,” jawab sang santri sambil menundukkan kepala.
“Lalu, siapa yang harus kamu dulukan?” tanya Gus Miek sekaligus membuat santrinya terdiam.

BACA JUGA:  KAROMAH HABIB LUTHFI, MENEMUI WALI YANG SUDAH MENINGGAL

Demikianlah, Gus Miek mengajarkan pada santri seniornya.
“Bila untuk pribadi, terapkan hukum syariat supaya berhati-hati. Tapi bila menilai orang lain, gunakanlah hakikat, agar kamu berperasangka baik terhadap orang lain,” ucap Gus Miek.

Demikianlah kisah Gus Miek menyuruh santrinya makan daging babi untuk memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi santrinya.***