KISAH HOROR: WANITA GAIB ALAS LALI JIWO

Diposting pada

Wanita Gaib Alas Lali Jiwo

“Adi, Ibu mohon! Ibu mohon jangan pergi, Nak! Kata orang-orang tempat itu angker,” cegah ibu sambil menangkupkan kedua telapak tangan, memohon.

Matanya sedikit berair, penuh rasa cemas dan kuatir. Entah mengapa, ibu begitu mudah percaya mitos-mitos sampah yang digembar-gemborkan tetangga. Aku jadi muak dengan sikapnya yang terlalu protektif.

“Pokoknya aku mau berangkat. Aku sudah janjian sama temen-temen. Udah, ah, jangan halangi aku pergi,” elakku kasar, dengan pandangan keras, menatap ibu kandungku sekilas.

Segala perbekalan pendakian sudah ada di dalam tas besar yang telah kugantung di punggung. Aku melangkahi pintu depan dengan caraku yang pongah.

Aku tahu, ibu mengejar hingga halaman. Ia berulangkali menyebut namaku, dengan harapan aku mau mendengar, lantas urung berangkat.

Oh, tidak semudah itu.

Sudah hampir enam bulan lamanya aku merencanakan pendakian ini. Bersama teman-teman. Saat libur sekolah memang waktu yang tepat.

Itu mereka, Evan dan Bimo, teman-teman sekolahku, sudah duduk manis di atas motor seberang jalan.

Aku mempercepat langkah, abai dengan panggilan ibu yang sayup-sayup hilang tak lagi terdengar. Sebuah batu sebesar bola sempat menghalangi jalanku, hingga kata kotor itu meluncur dari bibir, ” … Ancuk …. “

Aku nyaris terjungkal. Lantas memaki sengit benda mati itu. Di sana, kudapati Evan dan Bimo menahan tawa.

“Udah siap?” sapaku sambil menepuk pundak Bimo.

Pemuda berkumis tipis itu mengangguk, sambil menjawab, “udah, dong, Bro. Kamu aja yang lama. Ya kan, Van?” Bimo menjawil Evan yang duduk di belakangnya, mencari pembelaan.

“Ya. Hampir sejam kita nungguin lu. Lama banget. Mana udah jam 8 lagi. Keburu siang ntar,” timpal Evan.

“Sudah, ah. Jangan banyak bacot. Ini semua gara-gara, tuh, nenek lampir,” gerutuku sebal sambil menoleh sebentar ke belakang. Rupanya ibu sudah tidak bertahan, ia tak tampak lagi di halaman.

“Aku mau ngambil motor dulu di rumah pak de. Setelah itu jemput Cindy dan Mia. Kalian tunggu!”

Aku berlalu meninggalkan mereka yang terdengar menggerutu, mungkin sebal, ke rumah pak de untuk mengambil motor.

Tak berselang lama, motor koplingan sudah kutunggangi keluar. Kuhampiri kembali Evan dan Bimo, lantas melepas pacu ke arah barat, meninggalkan asap pekat yang menguar dari cerbong knalpot, mengotori udara segar pagi, membumbung hingga ke angkasa.

Hanya butuh lima belas menit kami sampai di halaman rumah Cindy, pacarku.

Mungkin karena suara desing motor kami yang ricuh, membuat gadis itu tidak lama keluar dari rumahnya, tanpa kupanggil terlebih dahulu.

“Loh, kok, belum dandan?” tanyaku heran melihat penampilannya yang hanya berkaus lengan pendek dan mengenakan rok hitam sepaha, dengan rambut lurus tergerai.

Sebenarnya aku tidak mencintai gadis kelas satu SMA itu. Aku hanya tergiur dengan tubuhnya yang cukup berisi, sangat memikat pemuda normal sepertiku.

BACA JUGA:  KISAH ISTRI PESUGIHAN POCONG

Ia memang cantik, dan tidak sedikit anak sekolah yang menembak, tetapi beruntungnya, ketampanan wajahku mungkin yang membuatnya menerimaku sebagai pacar.

Bahkan, sejak tiga bulan menjadi pacarnya, aku sudah beberapa kali mendapatkan bibirnya di toilet sekolah. Ah, tempatnya memang sangat menjijikkan, tetapi setelah ini, aku akan mendapatkan lebih dari bibirnya, bukan lagi di toilet sekolah yang bau, melainkan di tempat pendakian, Gunung Arjuno. Dengan latar pegunungan yang elok, itu pasti sangat menyenangkan dan mendebarkan.

“Yang …, “ panggilnya manja. Aku bangkit dari motor sebab ia menyeret lenganku.

Evan dan Bimo bermain dengan ponselnya, barangkali semakin sebal. Sementara aku mengikuti langkah Cindy, ke samping dinding halaman.

“Yang, aku enggak jadi ikut,” akunya tiba-tiba, membuatku sedikit kecewa.

“Loh, kenapa? Kok mendadak?”

Dengan wajah cemberut, ia memegangi kancing bajuku yang terbungkus jaket kulit dengan resleting menganga, lantas menjawab, “Mia enggak jadi ikut, katanya ada urusan. Masak iya aku cewek sendiri?”

“Hmm …. “ Aku mendesah, sembari menciumi ujung rambut panjangnya yang wangi.

“Kenapa kalau cewek sendiri? Kamu takut diapa-apain? Kan, ada aku!” seruku mendesak.

“Enggak, ah. Lain kali aja!” tolaknya bersikukuh. Aku sedikit kesal, karena rencana kesenanganku dengannya hampir bisa dipastikan gagal.

Aku mendesah lagi, tidak bisa menghabiskan banyak waktu hanya demi membujuk Cindy. Apalagi Bimo dan Evan, mungkin sudah kepalang sebal.

“Kamu gitu, deh. Ya udah, ah.” Membawa sebal, aku melangkah menjauh, tetapi sebagai ganti, aku harus mendapat sesuatu darinya, sedikit saja.

“Sun dulu kalau begitu!” pintaku membalik badan, sambil mendekatkan wajah ke mukanya. Ia terkekeh, tetapi membalas dengan jentikan jemari.

Ah, kian bertumpuk rasa sebal ini.

Ia melihat dengan mata menggoda, ke arahku yang sebal menggenjot motor. Lantas ia melambaikan tangan, dan hanya meneriaki ‘hati-hati’, mengiringi langkah kami bertiga, menuju Gunung Arjuno dengan segala keindahan alamnya.

Barangkali, ucapan ‘hati-hati’ dari Cindy, adalah kalimat terakhir yang kudengar dari bibir indahnya.
___o0o___

Pukul 10 siang, kami baru sampai di titik pendakian pertama, di Wonosari.

Kami memarkirkan motor di tempat yang tersedia, kemudian melakukan registrasi, membayar tiket masuk.

“Halo …. “ Aku menjawab telepon dari Cindy yang baru masuk. Entah, ia bicara apa. Kondisi sinyal yang kurang baik membuat percakapan kami sedikit terganggu. Namun, kupastikan alasan ia menelepon adalah sebab menyesal karena urung ikut.

Kulirik Bimo dan Evan berbincang dengan petugas yang ada, tetapi aku masih asyik melayani Cindy di seberang sana.

Pukul 10 lewat, kami baru mulai melakukan pendakian, menuju pos berikutnya.